Skip to main content

Perjalanan Menuju “Dieng Plateu” Negeri Cantik di Bawah Langit



Pagi jam 07.00 kita mulai perjalanan dari Jogja menuju Dieng lewat arah Temanggung. Masih dengan tim yang sama, aku, Wenny dan Ucup. Setelah sehari sebelumnya berkutat muter-muter dalam kota saja di Jogja, sekarang saatnya perjalanan luar kota. Modal nekat aja sih karena aku sendiri belum pernah kesana dan rute itupun ku dapat cuma melalui telp dari Bapak. Perjalanan dari Jogja menuju Secang Magelang sekitar satu jam. Selanjutnya menuju arah Temanggung dan Wonosobo. Perjalanan yang cukup lancar mengingat jalur luar kota tidak serumit jalur dalam kota. Cukup memperhatikan tanda dan arah jalur yang dipasang di jalan. 

Saat sampai di Temanggung menuju Wonosobo, awan mendung mulai mengikuti. Perjalanan masih naik terus, dan terus berkelak-kelok. Bau kampas dari truck dan bis mini bercampur jadi satu dengan bau tanah basah saat gerimis mulai turun. Sejam kemudian hujan deras benar-benar turun. Kita memutuskan berhenti dulu di pom bensin untuk sholat dan cari makanan hangat sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Setelah cuaca mulai membaik dan kenyang, lanjut lagi perjalanan dengan ketinggian yang semakin naik tajam.

 Kita sempet berhenti di Gardu Pandang Tieng. Dari sini sudah mulai terasa sekali hawa dingin. Di gardu inilah kita berada di ketinggian 1.789 di atas permukaan laut. Jam dua siang kabut sudah mulai turun, rintik hujan juga masih menemani. Kalaupun dipaksakan jalan ke tempat wisatanya juga tidak akan maksimal dengan kondisi cuaca seperti ini. Setelah beradu argumen, akhirnya bertiga memutuskan untuk menginap disini. Keinginan untuk melihat sana sini akhirnya difokuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu. Dari gardu kita mesih melanjutkan perjalanan naik terus ke atas, benar-benar melewati jalan pinggir gunung yang mengulir. Kupikir kita bakal dekat lagi dengan penginapan ternyata masih lumayan jauh ke atas. Saat tertutup kabut itulah tampak bahwa kita seperti berada di suatu tempat yang makin dengan langit, meninggalkan bukit-bukit yang nampak semakin kecil. 

Akhirnya kita sampai juga di kawasan wisata Dieng. Jarak antara tempat yang satu dengan yang lain tidak begitu jauh. Penginapan juga banyak di sepanjang jalan. Ada beragam pilihan dari sisi harga dan macam tempatnya. Pertama kita sempat masuk dalam penginapan yang di dalamnya kebanyakan berisi para backpacker dengan ransel-ransel gede. Setelah kita cek cuma ada satu kamar yang tersisa. Akhirnya pilihan kita jatuh di homestay Arjuna. 


 ^Dongeng Purwaceng di Homestay Arjuna 

Masuk ke dalam homestay tampak beberapa tamu yang siap-siap checkout. Beruntung kita dapat kamar akhirnya. Si Ibu masih sibuk mengurusi tamu yang kebanyakan memang rombongan anak laki-laki muda. Rupanya mereka tampak malu-malu untuk menanyakan tentang purwaceng. Yang aku tahu dari hasil browsing sebelum kesini, salah satu oleh-oleh khasnya ya purwaceng ini. Konon katanya untuk menambah vitalitas bagi kaum pria. Di bandrol dengan harga seratus ribu dalam kemasan ukuran botol selai. Ada juga bentuk kapsulnya. Hahaha…tidak menyangka kalau awal datang ke sini langsung disuguhi cerita purwaceng yang tadinya aku ngga terlalu ngeh. Untuk sesaat aku tersingkirkan dari perhatian si Ibu yang sibuk membungkus oleh-oleh itu. Yup rombongan ini tampak antusias dengan purwaceng si Javanesse Viagra ini. Hmm...ternyata jadi menu minuman andalan juga rupanya dalam buku menu makanan. Berarti bisa dipesan tanpa malu-malu, cukup dengan sepuluh ribu saja. Oke ini bukan areaku untuk membahasnya lebih detail. 

Si Ibu sudah siap untuk mengajak melihat kamar dilantai atas. Aku memilih yang pojok. Punya jendela lebar dengan view kebun sayur dan pegunungan yang indah. Single bad yang cukup besar untuk aku dan Wenny, lengkap dengan bed cover plus selimut tebal yang akan jadi penyelamatku dari kedinginan nanti malam. Televisi plus air panas, cukuplah fasilitas untuk penginapan yang tarifnya 150 ribu per malam. Bukannya gaya-gayaan ga mo cari yang murah, tapi lebih mempertimbangkan untuk bisa cukup istirahat. Besoknya Ucup harus menempuh perjalanan Dieng-Jogja lanjut Jogja-Semarang tanpa backup driver, dan aku sendiri yang tidak membawa pakaian hangat apapun kecuali selembar pashmina. Tujuan Dieng ini memang spontan dalam list liburan kali ini.


Pemandangan dari balkon penginapan


Cuaca berkabut, dingin dan rintik hujan yang belum sepenuhnya reda menyempurnakan acara istirahat setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam dari Jogja. Sorenya kita berputar mengelilingi kawasan penginapan sekaligus mencari makanan untuk menghangatkan badan. Tampak berjajar penginapan dan toko-toko kecil yang menjual atribut pakaian untuk menahan dingin. Mulai dari syal, kaos kaki tebal hingga tutup kepalanya. Setelah makan kita memutuskan untuk balik ke penginapan karena kabut yang makin tebal sehingga mengurangi jarak pandang. Percuma juga kan jalan tapi ga keliatan apa-apa... 


^Selamat Pagi Dieng 

Alhamdulillah, tidak seburuk yang kubayangkan. Setidaknya masih bisa tidur lelap dan bersemangat bangun pagi. Aku mengambil tempat di ruangan depan kamar yang bersebelahan dengan balkon untuk sholat subuh. Lepas sholat, sinar kekuningan matahari sudah mulai nampak. Yup, pagi ini cerah sekali nampaknya. Terbayar sudah cuaca mendung dan hujan kemarin siang. Ku buka pelan pintu besar menuju arah balkon sambil menguatkan diri menahan dinginnya udara yang berkabut dan embun pagi. Sambil memainkan uap yang keluar dari mulut setiap kali nafas dihembuskan, kunikmati bentangan kebun sayur di depan penginapan. Tak sabar untuk segera menikmati petualangan pagi ini. Kubangunkan Ucup dan Wenny yang masih terasa malas untuk menggerakkan badannya. Akhirnya keluar dari homestay jam 5.30 pagi, langsung kita menuju ke Telaga Warna. 


^Insiden Dikejar Anjing Pagi Hari 

Pelukan kencang dan nafas yang terengah-engah masih kurasakan. Sekilas kulihat Wenny masih menyeka air matanya. Entah seberapa panik dan kagetnya dia. Terlintas barusan adalah teriakannya yang begitu kencang karena seekor anjing yang cukup lincah mengejarnya. Si Bapak yang kebetulan berada di tempatnya tadi sudah meneriakinya untuk tidak lari dan duduk agar anjing berhenti mengejarnya. Tapi panik dan takutnya mengalahkan semuanya. Aku sama Ucup sempat terkejut karena tidak tahu bagaimana kejadian bermula. Si Bapak tadi akhirnya mengusir jauh-jauh anjingnya. Air mata yang tertumpah jelas pengulangan suatu kejadian yang mengakibatkan trauma tak terkira. 


^Chasing Sunrise di Telaga Warna 

Akhirnya loket dibuka. Kita adalah pengunjung pertama hari ini. Lumayan dapat potongan seribu rupiah dari harga normal yang biasanya Rp. 6000 per orang. Saat kita sudah sampai di pinggir telaga, permukaan air belum sepenuhnya terlihat karena masih tertutup kabut. Perlahan udara menggerakkannya sehingga kabut terlihat menipis dan samar permukaan air mulai nampak. Hanya saja warna biru kehijauan belum terlalu kelihatan. Akhirnya kita menyusuri sepanjang jalan dipinggir telaga menuju semak rumput diatas rawa yang tampak cantik ditimpa kemilaunya sinar matahari pagi. Kita belum beruntung karena cahaya pagi belum berdamai dengan kamera yang ada di HP. Hanya terlihat bayangan siluet hitam saja setiap kali kita mengambil gambar. Arah sinar matahari selalu menghadap kita setiap kali ingin mengambil gambar sepanjang telaga. Ucup yang paling bersemangat mencoba berbagai posisi dan tempat agar kita bisa dapat gambar yang bagus dan tidak silau oleh cahaya matahari. Terus berjalan ke belakang menuju telaga berikutnya yang lebih kecil. Beberapa rombongan juga sudah mulai terlihat berjalan di belakang kita. 



Kabut tipis masih menutupi permukaan telaga
Mulai hangat dengan sinar matahari yang terbit

Melupakan sejenak insiden yang mengharukan….Wenny tetap cool :P..yeaahhh

Macam model foto kalender saja :P

Berjalan naik mengikuti alur paving block, kita bisa melihat telaga dari tempat yang sedikit lebih tinggi. Duduk di batang pohon pinggir telaga, tampak tenang sekali, Dingin, teduh, suara kicau burung, dan akar pohon yang membantu kita berpijak melengkapi suasana hutan yang masih sangat alami. Mengingatkan kawah putih di Jawa Barat, hanya bedanya disini masih dikelilingi semak rawa dan hutan yang masih sangat asri. 



Semak rumput liar menyerupai savana ditimpa cahaya matahari
 Lebih suka dengan pemandangan rindang pohon dibelakangnya..hehe
 “Selamat Pagi …”
Sosok pemuda yang ditemukan di tengah semak :P


 ^Kawah Si Kidang 

Kita tidak berlama-lama di Telaga Warga, mengingat kita masih harus balik lagi ke Jogja. Perjalanan selanjutnya menuju ke kawah Si Kidang. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari Telaga Warna. Tiket masuknya sendiri dijadikan satu dengan wisata candi Arjuna, setiap orangnya 10.000 rupiah. Begitu melewati gerbang menuju pintu utama kawah, bau belerang sudah mulai tercium. Terlihat pipa-pipa besar, bahkan ada yang sambungannya berbentuk seperti gapura, dengan ketinggian sekitar 3 meter di atas mobil yang kita lalui. Sampai di pintu utama, kita disambut beberapa pedagang yang menawarkan masker penutup muka. Ternyata salah satu efek dari hujan semalem membuat bau belerang menjadi semakin tajam. Dan hal ini sudah berlangsung sekitar 1 minggu, begitu menurut bapak penjualnya. Kali ini, lagi-lagi pashmina menyelamatkanku dari tajamnya bau belerang yang kalau kita hirup terus menerus bisa mengakibatkan pusing kepala. Wenny tetep dengan kerudung yang dimodif ala cadar...hahaha Aisya turun gunung. Mau ga mau, Ucup yang harus beli masker. Mulai turunlah kita berjalan menuju kawah. Warna putih batu kapur, hijaunya pegunungan di sekelilingnya, dan tentu saja asap berbau belerang mendominasi perjalanan kita menuju kawah yang terbesar. 


Di pinggir kawah Si Kidang

 
Di pinggir kawah, dibatasi dengan pagar bambu. Hujan juga ternyata membuat suhu air yang meletup di kawah menjadi naik mencapai 165 derajat. Sementara kalau cuaca normal suhu hanya mendekati 100 derajat. Tentu saja uap yang dikeluarkan lebih panas. Itu hasil cerita yang kudapatkan dari bapak-bapak yang duduk di sekitar kawah menjajakan telur rebus. Sambil menunggu Ucup yang terus berjalan naik ke atas bukit dengan rasa penasarannya, aku memutuskan untuk mencoba merebus telur dengan keranjang dan galah bambu panjang untuk mencelupkan ke kawahnya. Ternyata sama bapaknya ngga boleh, khawatir karena belum biasa. Merebusnya tidak semudah yang kita lihat, karena lebih berat ketika telurnya sudah dicelupkan dalam kawah dan takut kena airnya. Oke lah akhirnya aku cuma bisa membeli yang sudah matangnya. Sambil duduk dekat si Bapak, kulihat sambungan pipa yang kita lihat di depan ternyata sampai di belakang bukit terlihat dari tempat kita duduk. Jadi energi panas bumi di sini dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik dengan dialirkan melalui pipa-pipa tadi. Selain kawah memang banyak ditemukan juga sumur sumber panas di daerah ini. Uap air dan lava berwarna kelabu dan bergejolak yang ada di depan kita ternyata munculnya berpindah-pindah, melompat seperti seekor kidang. Itu dia kenapa dinamai dengan kawah Si Kidang. Bahkan yang di depan kita ini diperkirakan si Bapak sampai empat tahun saja, selebihnya akan muncul ditempat lainnya lagi. Cerita si bapak selesai, Ucup juga sudah turun, mari kita lanjut ke Candi Arjuna. 

 ^Si Pipi Merah dan Edelweiss 

Begitu keluar dari area kawah, di pintu keluar kita bertemu dengan anak-anak kecil yang sedang bermain. Sepintas biasa saja. Tapi semakin ku dekati semakin mengingatkanku cerita dua setengah tahun silam saat pergi ke Bromo. Yaa..pipi anak-anak itu merah. Seperti blush on alami yang nempel ditambah senyumnya yang merekah. Gemesin banget...hehe. Fenomena yang biasa untuk penduduk yang tinggal di daerah kawah dengan pegunungan dingin seperti halnya Dieng dan Bromo. Ibunya bilang, itu adalah keringat yang harusnya keluar tapi tak bisa karena tertahan dinginnya udara. Entahlah aku juga tidak tahu pastinya. Tapi yang aku ngga pernah bisa lupa adalah senyum pipi merah dengan bunga edelweiss berwarna-warni yang ditawarkan anak-anak kecil itu sebagai kenang-kenangan untuk dibawa pulang :) 


Edelweiss...dalam berbagai warna


^Kebun Sayur 

Sebagai tempat yang mata pencaharian utama penduduknya sebagai petani, rasanya sayang kalau harus melewatkan pemandangan indah kebun-kebun sayurnya. Kentang, wortel, daun bawang, dan kubis mendominasi hasil pertanian. Iseng sebelum menuju ke candi Arjuna, aku menyempatkan untuk mampir sebentar ke kebun. Satu petak biasanya akan ditanami lebih dari satu macam jenis. Disela-sela tanaman kubis misalnya, ditanami dengan kentang. Kebanyakan petaninya memang kaum perempuan, dengan pakaian khasnya. Tutup kepala berupa caping dan kain yang digunakan untuk menutup telinga dan separuh mukanya dari dinginnya udara. 




^Candi Arjuna 

Masih terletak satu kawasan dengan obyek lainnya, kita tak melewatkan begitu saja untuk mengunjungi Candi Arjuna. Dibanding lainnya, tempatnya sudah lebih rapi. Jalan menuju ke kawasan candi dibentuk seperti taman bunga. Memang hanya berupa kawasan beberapa candi yang tidak terlalu besar dan megah, tapi pemandangan sekitarnya menakjubkan. Dikelilingi perbukitan hijau sejauh mata memandang kea rah manapun. Tempat obyek wisata terakhir yang kita kunjungi, mengingat masih panjang perjalanan ke Jogja dan Semarang yang akan kita tempuh. Next time…Insya Allah kita berharap bisa berkunjung lagi dan melengkapinya dengan obyek wisata yang masih berada di kawasan ini yang belum sempat kita datangi. 


^Oleh-oleh 

Oleh-oleh yang bisa dibawa pulang tak jauh dari hasil pertanian. Sekeranjang sayuran, kripik jamur, kacang Dieng, dan tak lupa carica "si pepaya gunung" yang dibuat manisan. Sekitaran kawah si Kidang, edelweiss juga dijajakan sebagai buah tangan. Ada juga yang dilengkapi dengan vas kayu yang berasal dari pohon pakis. Bentuk unik, karena kayunya sendiri mempunyai motif alami. Alur dalam kayu yang berwarna gelap menunjukkan kayu yang keras, sementara di bagian terangnya lebih lunak. 


Motif alami dari kayu pakis
Minyu Mau ??? Abang beliin yee… 

 
Pukul 11.00 kita check out dan mulai meninggalkan Dieng. Hamparan bukit dan lembah sepanjang jalan yang terus menurun dan berkelok, memang pemandangan cantik yang disuguhkan sebagai kesan mendalam yang tak akan terlupakan. Gak salah kan kalau aku menyebutnya sebagai “negeri cantik di bawah langit” :) 


Perjalanan pulang menuju Jogja (1.789 DPL)







Comments

Popular posts from this blog

Dunia di Balik Lemari Kaca

Palem Permai, Bandung, 11.11.2012. 

Udara pagi Bandung membuatku masih betah meringkuk dalam selimut tebal. Namun suara celoteh Shazia, sudah ramai terdengar dari ruang tengah. Akhirnya rasa malas bergerak terkalahkan oleh rasa kangen untuk bermain dan ngobrol dengan si neng geulis ini. Kusingkap selimut, lalu mencuci muka sambil menahan dingin air kran. 
Hmm…aku mencium wangi kopi dari ruang meja makan. Hehe..rupanya pagi ini aku mendapat secangkir kopi gratis dari Abinya Shaz yang mendadak jadi barista. Bunda Iroy sudah menyiapkan sarapan dengan menu Padangnya. Sementara Kak Sil sudah di meja makan, sibuk dengan dendeng, lemper ayam, plus kopi di cangkir besarnya. 
Di Bandung kok menu Padang? Mana bubur ayam Mang Oyo-nya? Jangan tanya, duduk dan makan saja semua yang ada :)
Namanya Silvi Pitriani, Kak Sil begitu biasanya aku memanggil. Dia adalah tetangga sebelah kamar kosan, yang semalam baru saja menculikku. Tepatnya untuk menemaninya nyupir ke airport, menjemput temannya yaitu Bu Na…

Bertandang ke Kota Sri Sultan

05 April 2012, 18:00 WIB
Saatnya eksekusi planning liburan yang aku buat secara spontan seminggu yang lalu dengan Wenny dan Ucup. Setelah urusan Report Exclusion kelar, keluar dari Gedung Panin di Pandanaran menuju ke kosan buat packing dan ngurus masalah transportasi. Kita bertiga memutuskan untuk langsung perjalanan malam menuju Jogja selepas ngantor. Ceritanya biar bisa istirahat dulu dan perjalanan gak tergesa-gesa. Semua barang sudah dimasukkan, perut juga sudah kenyang, tak ketinggalan bantal kesayangan, mari kita tinggalkan Semarang menuju ke kota Sri Sultan. Sekilas kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 21:00. 
Perjalanan cukup lancar. Sesekali melewati truk-truk besar dengan kepulan asap hitamnya laksana cumi-cumi jalanan menghiasi seputaran kota Ungaran menuju Bawen. Wenny sudah mulai pelor nampaknya di belakang. Aku sendiri menemani Ucup menikmati perjalanan berkelok menembus gelap jalur sepanjang Magelang. Ini adalah kali pertamanya dia menuju ke Jogja melewati jalur utara…