Skip to main content

Bertandang ke Kota Sri Sultan





05 April 2012, 18:00 WIB 

Saatnya eksekusi planning liburan yang aku buat secara spontan seminggu yang lalu dengan Wenny dan Ucup. Setelah urusan Report Exclusion kelar, keluar dari Gedung Panin di Pandanaran menuju ke kosan buat packing dan ngurus masalah transportasi. Kita bertiga memutuskan untuk langsung perjalanan malam menuju Jogja selepas ngantor. Ceritanya biar bisa istirahat dulu dan perjalanan gak tergesa-gesa. Semua barang sudah dimasukkan, perut juga sudah kenyang, tak ketinggalan bantal kesayangan, mari kita tinggalkan Semarang menuju ke kota Sri Sultan. Sekilas kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 21:00. 

Perjalanan cukup lancar. Sesekali melewati truk-truk besar dengan kepulan asap hitamnya laksana cumi-cumi jalanan menghiasi seputaran kota Ungaran menuju Bawen. Wenny sudah mulai pelor nampaknya di belakang. Aku sendiri menemani Ucup menikmati perjalanan berkelok menembus gelap jalur sepanjang Magelang. Ini adalah kali pertamanya dia menuju ke Jogja melewati jalur utara. Jalan yang lengang semakin memperlancar kita menuju arah Jogja. Jam 23.30 kita sudah berada di depan Rs. Internasional Ring Road sebelah utara , nunggu Mas Agus buat ketemuan. Ceritanya sih nganterin Wenny yang mo temu kangen sama kakak sepupunya plus ngajakin kita nginep disana  



06 April 2012, 12:30, Dari Ambarukmo Plaza menuju Malioboro 

Setelah main sama Mujib, nunggu Ucup bangun tidur sampai selesai sholat Jum'at, barulah kita keluar dari rumah Mas Agus. Tujuan pertama kita adalah Ambarukmo Plaza. Bukannya gaya-gayaan sok anak mall ya, tapi kita ga mau berspekulasi nyasar ke tempat lain hanya karena nyari peta. Maklum masih buta Jogja ceritanya, dan ke sinipun hanya mengandalkan nekad luar biasa. Parkiran penuh banget, kita dapat di roof topnya. Dari eskalator turun menuju Gramedia. OK lah, nemu petanya. Mari menyusuri kota Jogja. Tujuan pertama : Malioboro, sembari pemanasan ngehapalin rute jalannya. 

Alhamdulillah, sampe dengan sukses tanpa kendala salah jalan. Mulailah menyusuri lapak-lapak kecil sepanjang Malioboro yang menawarkan aneka barang dan oleh-oleh khas Jogja. Wenny adalah bintangnya kali ini. Dia kalap borong kaos judulnya. Kaos couple dengan kata dan gambar parodian khas Jogja. Buat Bams tercinta yang lagi ultah tuh. Buat adek-adek yang dirumah juga sih katanya. Ucup sibuk nyari gelang buat Minyu. Aku sendiri apa ya...tar dulu deh :) 


Rojali Nyasar di Mirota Batik 

Gak terasa kita udah mau nyampe ujung aja. Mari ke Mirota Batik, lebih komplit dan beda barangnya dengan yang ada di luaran. Pengunjung cukup penuh. Maklum long weekend. Memasuki toko, tampak ibu-ibu dengan pakaian kebaya mempersilahkan masuk. Lantai bawah atau dasarnya berisikan aneka kain batik dan bajunya, termasuk demo seorang ibu yang sedang membatik dengan cantingnya. 


Lihat cara membatik dengan canting


Disebelahnya bagian kosmetik herbal ala keraton, mulai dari lulur, ratus, wewangian aroma therapi, dan jamu-jamuan yang biasa diseduh. Yang menarik adalah properti dan tempat display barang-barangnya, semuanya bernuansa Jawa sekali. Mulai dari kereta di depannya, foto-foto Sri Sultan, gebyok berukir, sepeda antik jaman dulu sampai dengan kostum yang dipake oleh karyawannya.


Lantai kedua sasaran beikutnya. Di tempat ini bisa ditemukan segala macam kerajinan tangan, dari mainan anak-anak tradisional sampai dengan gerabah atau perabot rumah tangga. Surganya belanja ide dan kreatifitas yang dipadukan dengan unsur budaya dan sejarah. Semantara tempat yang paling seru adalah rak yang berisikan topeng, dimana kita mencoba menempelkannya pada wajah sambil berfoto ria. Wajar, namanya juga Rojali (Rombongan Jarang Beli). Mengutip kata Rojali dari "Take Djuastito", patner OSS kita yang ga ikutan karena lagi sibuk cengar-cengir kegeeran dengan kuda-kuda yang ada di Bromo. Jadi intinya cuma liat-liat aja sambil gaya-gayaan numpang foto. Mohon dengan sangat jangan ditiru perbuatan ini. Cukup harkat dan martabat kita yang tercabik-cabik. Harusnya dompet kita yang tebel, tapi apa daya ternyata muka lebih tebel dan kuat menahan malu. Duitnya udah abis di Malioboro sih.


Belajar dari pepatah bijak "URIP SEJATINE GAWE URUP" 
Hidup seharusnya memberi kehidupan yang baik bagi sekitarnya 
(walaupun lingkungan dipenuhi dengan segala macam karakter yang tidak selalu sama )




Senggol Satu Rubuh Semua 

Jujur sebenernya pengen nge-delete aja bagian cerita yang ini. Tapi masalahnya adalah peristiwa ini justru yang paling tak terlupakan. Memalukan sekaligus memilukan teramat sangat. Ceritanya lagi ada di bagian wayang kulit. Memegang tokoh Shinta. Di tag pricenya juga ada sedikit crita tentang penculikannya oleh Hanoman. Lagi asik pegang, di foto lah sama Wenny. Ciee... kesannya jadi anak yang sangat care sama budaya dan sejarah. Lumayan oke dong aahh. Kalau ngga, ga mungkin juga Wenny minta di foto-in. Saatnya giliranku yang ambil gambar. Sedikit agak mundur ke belakang biar gambar terlihat bagus. Braakk...suara apa tuh?? Wenny nunjuk ke arahku dan ngingetin. Ternyata aku nyenggol wayang golek yang ada disebelah kananku. Makin penasaran, aku nengok ke belakang lagi...oohhhh tas ranselku nyenggol lebih banyak lagi, daaannn semua wayangnya berjatuhan ke lantai. Da**...sumpah enggak banget deh. Tiba-tiba saja aku diam, blank sih tepatnya. Terus spontan aku jongkok, berusaha merapikan dan menata ke tempatnya lagi. Gilee...banyak, 20 lebih kayaknya. Pelayan cowok yang di depanku dengan muka juteknya memanggil temannya yang lain untuk membereskan. Bodo fikirku. Saat itu yang ada di pikiranku cuma rusak ga ya wayangnya. Haduuh, jangan sampai deh disuruh ganti. Berapa duit coba klo banyak rusak. Pecah belah kali yaaa...pecah brarti beli. Pikiranku yang aneh-aneh aja dan makin tak terkendali rasa paniknya, sambil terus menata. Mukaku terlihat putih mungkin, bukan karena sukses pake produk pemutih, tapi pucet ga ketulungan. Orang-orang pada ngliatin lagi. Kok bisa ya melakukan hal sebodoh ini. Kok sampe ga berasa kalau ranselku nyenggol. Kuraba lagi tas dipunggungku. Masya Allah..ternyata gendut banget penuh titipan belanjaan Wenny. Wenceeeeeeee...kau punya andil dalam hal ini. SIAAAL!!! hiks..hiks kayaknya sih karma sebagai Rojali nih.. :P 


" ya udah mbak, tinggalin aja. tar juga ada yang beresin"  kata si mas nya sambil melengos. Sementara Wenny dan Ucup minggir ke sebelah kiri. Kulihat disana juga ada banyak etalase kaca dan kerajinan rawan pecah. Segera aku menghindar jauh-jauh dari tempat itu menuju yang lebih aman. Huufff...




Muka versi topeng 


Kerajinan yang ada di Mirota


Laperrr....saatnya makan. Mari kita menyeberang dan jalan menuju arah Pasar Beringharjo. Lebih tepatnya sih, ayo nyari makanan yang murah. Akhirnya sepakat makan persis di depan gerbang masuk Pasar Beringharjo. Nasi Pecel. mie dan urap banyak dijajakan disini. Buat kita sebagai makhluk-makhluk yang tidak terlalu rewel dengan kebersihan, mencicipi makanan pinggir jalan akan memberikan pengalaman tersendiri. Saatnya petualangan kuliner lokal, dengan pemandangan hiruk pikuk ramenya pasar. 

Lepas dari sholat Ashar, kita berjalan terus menuju arah keraton. Sesekali berhenti, duduk di kursi panjang sambil istirahat dan menikmati aktifitas penduduk lokal yang kebanyakan emang berdagang mengandalkan sisi pariwisata. Suasana sore mulai rame. Tampak anak-anak muda bergerombol dengan tentengan kamera yang siap mengabadikan segala pesona. Entahlah, sulit membedakan kebutuhan akan kamera antara yang passion dengan yang hanya berfungsi sebagai fashion. Kalau kita sih yang penting...1,2,3..eksyen..hehehe. Akhirnya kita menyeberang dan berfoto-foto di depan gedung kantor pos. Itu loh yang kadang suka buat syuting FTV itu..halaahhh. 


Cita-cita yang tak kesampaian, berfoto di tengah jalan raya..

 Antara passion atau fashion ???

Yang penting eksyen..1,2,3..jepret..pret (dalam rangka menjawab tantangan Ucup)  
Syahdu di sekitaran gedung Kantor Pos lama

Lampunya ....Malioboro bangeett.
 . 
Ada cerita seru dari bapak-bapak tukang becak. Awalnya dia nawarin muter, cuma kita ga mau. Akhirnya kita kaya dinina bobo dengan cerita tentang berjalan dengan mata tertutup melewati pohon beringin di Alun-alun Kidul (Alkid). Mitosnya ada banyak versi. Cuma si bapak bilang kalau itu dulu sebenernya cara halus yang digunakan untuk menolak lamaran yang jadi mantunya raja. Kalau ga bisa melewati dengan lurus diantara dua pohon itu, sikap hidupnya dinilai tidak baik. Percaya...percaya..??? Tapi kita tidak mencoba..hehe dasarr.



 Jalan ke Benteng Vredeburg 

Puas mendengarkan cerita tentang Alkid dari bapak tukang becak yang kita temui di depan gedung kantor pos, kita balik arah menuju Malioboro. Belum ada tujuan pasti ke mana lagi, tapi kita masih ingin menikmati suasana malam di sekitaran daerah ini. Begitu sampai di depan Benteng Vredeburg, kita memutuskan untuk mampir sebentar sekedar berfoto, karena jam segitu kemungkinan tempat wisatanya sudah tutup. Ternyata kita salah. Justru sebaliknya kita beruntung. Di depan gerbang pintu masuk terpampang tulisan : 


 Jogja Indo Story 
Jogja Industry & History Exhibition 
VREDEBURG FAIR 2012 



Tiket masuknya murah meriah, cukup 2.000 saja tiap orang. Kenapa tidak... :) 
Begitu kita masuk, disambut oleh sorot lampu warna-warni yang berputar menerangi jalan dan bangunan dalam benteng. Di taman depan tampak patung pahlawan dan meriam perang. Kalau siang mungkin akan terlihat lebih jelas, terutama untuk difoto. Konon benteng ini awal pendiriannya digunakan Belanda untuk menjaga keamanan Kraton Yogyakarta. Tapi kenyataannya merupakan strategi yang sebenarnya tidak lain adalah sebagai tempat untuk memantau pergerakan Kraton Yogyakarta itu sendiri. Yah...sering banget ya bangsa kita kena tepu setiap kita belajar sejarah jaman di sekolah. 

Balik lagi tujuan kita ke sini. Jadi critanya dalam acara Vedeburg Fair ini, terdapat pameran yang diikuti beberapa instansi pemerintahan dan stand pameran yang berisi kerajinan. Stand pertama yang kita datangin adalah punya PT.KAI. Tema yang diangkat kali ini "SAVE OUR HERITAGE". Di dalamnya sendiri mengisahkan sejarah per-kereta apian jaman dulu hingga sekarang. Kemudian usaha untuk terus mengembangkan Lawang Sewu, gedung megah dengan arsitektur menawan yang konon dulunya merupakan kantor perkereta apian. Intinya agar kita lebih care lagi dengan "Heritage Railway" yang kita punya. Habis nanggap Mas-nya buat dongengin itu semua, mulai iseng deh Ucup. Diambilnya topi yang digunakan masinis, nyobain peluit, sampai mainan tanda yang sering digunakan kru kereta api. Ternyata bapak yang jagain tak berkeberatan, bahkan bersedia mengambil gambar kita bertiga dengan atribut tadi lengkap dengan lampu pencahayaan. 


Meramaikan stand PT.KAI dan AAU


Berikutnya stan Angkatan Udara. Berfoto dengan patung kru awak pesawat dengan kostum lengkap mereka. Juga mbak-mbak yang akhirnya ikutan nimbrung foto bareng. Request Ucup tentu sajah :P. Seterusnya muter semua stand, sampe akhirnya Ucup jadi gelisah dan pada akhirnya ngeborong dua tas buat Minyu-nya. Ciee..sayang pacar kali yaakk. 
Lanjut yuk menuju gedung di sebelah kanan dari gerbang masuk. Disini terdapat banyak Diorama, yaitu miniatur tiga dimensi yang menggambarkan kisah-kisah sejarah seputar kemerdekaan dan perjuangan di tanah air. Untuk kebutuhan pertunjukan sekaligus pendidikan, ruang pamernya ditata dengan cukup menyenangkan. Tata cahaya nya hidup dan imajinatif. Gambar lukisan besar di dinding semakin mambawa kita masuk ke dalam situsi yang digambarkan dalam diorama. Untuk mempermudah menangkap cerita adegan dalam diorama, di depannya diletakkan monitor touch screen. Hanya dengan menjentikkan jari dan menggeser tiap halaman maka alur cerita yang lebih detail akan tersaji penuh arti. 


Masih terjajahkah setelah kemerdekaan??  

Mas-mas Duta Diorama 
Ayo mba Weeny…diceritakan sejarahnya ..next..next

Pertanyaannya adalah : sudahkah kita memaknai dan melanjutkan perjuangan seperti dalam cerita diorama itu? Huuufff...terkadang bekerja dengan vendor bangsa lain saja seperti terjajah. Pressure dan tuntutan yang terkadang seperti di luar nalar. Yup, menjajah tapi dalam bentuk yang berbeda. Seandainya meriam-meriam itu bisa dibawa dan bisa mengeluarkan semua prajurit dalam diorama itu...mari kita serang tanpa perlu ribut perang email mulu *ngayal apaan siihh *Bisa ditimpuk ma pak Bos nih kalau ketauan..weuww 


Heeii...ada kerumunan apa tuh di pinggir jalan Malioboro?? Sekelompok pemusik jalanan yang bener-bener kreatif dengan alat musik tradisionalnya. Dan orang-orang betapa sangat menikmatinya. "Iwak Peyek...iwak peyeeekkk..sego jagung.." Gila, happening banget ya lagu ini...hehe tapi ga pake muter-muterin kepala ala trio macan. Gak pake gaya si Andre OVJ juga. Gaya Jogja saja.. "Jogja..Jogja..Jogja Istimewaa..ihiirr " Ga pernah bosen memang bertandang ke kota ini :) 


Pemusik jalanan sepanjang Malioboro



Kopi Joss Lek Man Mak NyOSS 

Setelah capek berjalan sepanjang Malioboro dan mengunjungi Vredeburg Fair, kita menuju ke tempat parkir, satu gang sesudah gang Dagen. Yang terbayang di pikiran kita saat itu cuma makan. Satu-satunya tempat yang terbayang olehku cuma angkringan Lek Man. Kalau selama ini aku tahu crita tentang Kopi Joss hanya dari browsing, maka malam ini aku harus mewujudkannya sebagai ending yang manis perjalanan hari ini muterin kota Jogja. Tempatnya sendiri secara persis aku tidak tahu. Dari yang kubaca selama ini, angkringan Lek Man berada di sebelah utara Stasiun Tugu. Hmm...itu berarti tidak jauh dari Malioboro kan? Setelah mengarahkan mobil menuju Gandekan dan bertanya dengan bapak-bapak yang yang berada di pinggir jalan, akhirnya kita mengikuti petunjukknya menyusuri Jl. Jlagran Lor. Berikutnya menemukan bundaran, belok ke kiri masuk ke jalan Suryonegaran yang berada tepat di sebelah kiri rel stasiun Tugu. Dibalik tembok yang membatasi antara jalan dan stasiun Tugu itulah ternyata berderet panjang angkringannya. Di seberangnya, trotoar digunakan sebagai tempat lesehan yang digelari tikar dengan panjang kurang lebih 100 an meter. Jauh dari yang kubayangkan, ternyata tempatnya memang bener-benar rame dengan orang nongkrong. Bahkan untuk parkir aja susah, harus mengantri panjang ke belakang.

Beruntung kita masih dapat space buat duduk lesehan di trotoar. Sementara Ucup duduk, Aku dan Wenny menuju tempat angkringan buat memesan makanan. Di sisi kanan angkringan tempat semua makanan diletakkan. Mulai dari sego kucing berlauk sambel teri dan oseng tempe, aneka macam gorengan sampai beragam sate sebagai lauk pauknya. Kemudian kita diberi piring seng yang khas banget model jaman dulu (seingatku waktu masih kecil), tempat untuk menaruh gorengan dan lauknya, serta alas buat makan nasi bungkusnya. Sementara di sisi kiri angkringannya sendiri ada anglo dengan arang membara dan deretan gelas yang ditata untuk minumnya. Tenang saja, jangan takut kalau gorengannya keburu dingin ketika kita sampai, karena semua lauknya bisa dihangatkan lagi dengan dibakar di anglo. Sebagai minumnya kita langsung memesan kopi Joss, kopi tubruk yang disajikan panas dengan diberi arang di dalamnya. Konon arangnya sendiri berfungsi sebagai penetralisir agar kadar kafein dalam kopi menjadi rendah. Untuk yang males duduk di trotoar, kita bisa duduk dibangku depan angkringan sambil melihat proses kopi Joss itu disajikan.

Mungkin beda tipis kali ya antara kalap dan lahap. Kita bertiga menghabiskan nasi 6 bungkus, 6 gorengan plus 14 tusuk sate. Dan yang mengharukan adalah aku bisa memakan 4 tusuk sate kikil yang selama ini aku sendiri kurang menyukainya. Sensasinya yang membuatnya beda adalah ketika dibakar, kikilnya menjadi lebih empuk dan kenyel-kenyel...sumpah enak bangeettt...hahahaha jadi malu. Belum lagi sate ati sama kerangnya yang ga kalah nyusss. Hadeeuuh, harus diakui deh kalau rasa makanan angkringan disini lebih ajib daripada di Semarang. Ditambah kopi Joss plus alunan lagu dan musik dari pengamen jalanan, klop deh acara petualangan kuliner lokal kita hari ini. Bonus plusnya adalah kita bisa berinteraksi sosial bersama penduduk lokal. Apapun topik obrolannya semua ada disini. Semua yang nongkrong di tempat ini aku rasa dari semua kalangan. Mulai anak-anak mahasiswa dan karyawan, bahkan sampe bule pun duduk di sebelah tempat kita. Ucup dong aahh...pengen minta difoto-in gitu. Gak pake susah ko, mereka cukup ramah bahkan bisa berbicara fasih dalam bahasa Indonesia sambil sesekali diselipin bahasa Jawa. 

" oyaa...ayo foto bareng BULEEE"..kata mereka...hahahha. Sumpeh dah, kalah tuh Ucup kaga bisa ngomong Jawa, eettt daahh *pakelogatbetawialaUcup. Yoii, ternyata mereka adalah guru bahasa Inggris di kota ini :) 

Saatnya untuk balik ke tempat Mas Agus. Perjalanan belum berakhir, karena kita ngga ngerti jalan pulang. Maklum banyak jalur searah yang membuat kita sering bingung karena jalan pergi suka berbeda dengan jalan pulangnya. Akhirnya jurusnya adalah dengan bertanya sama tukang parkir dan mengandalkan peta. Yup, disepanjang jalan aku ribut ma Ucup, karena kita sempet salah jalan. Aku yang belum familiar dengan nama jalannya sambil meraba-raba dan mencocokkan dengan yang di peta. Maklum ga semua jalan ada di peta terlebih yang bukan jalur utama. Rempong dah kalo drivernya cuma mau tau belok ke kanan atau ke kiri, sementara aku ma Wenny terus berusaha nyari tau jalannya. Ternyata feeling kita lebih ampuh daripada peta, terlebih saat mulai memasuki jalan dan gang kecil. Bhuhuhuhu...akhirnya nyampe juga. 

Saatnya tidur...ZZZzzzzzz...beneran nih besok mo ke Dieng?? 
Mimpi ngga sih... ssstttt.......zzzz 

To be continued 


Next... Perjalanan menuju negeri di bawah langit :)






Comments

Popular posts from this blog

Dunia di Balik Lemari Kaca

Palem Permai, Bandung, 11.11.2012. 

Udara pagi Bandung membuatku masih betah meringkuk dalam selimut tebal. Namun suara celoteh Shazia, sudah ramai terdengar dari ruang tengah. Akhirnya rasa malas bergerak terkalahkan oleh rasa kangen untuk bermain dan ngobrol dengan si neng geulis ini. Kusingkap selimut, lalu mencuci muka sambil menahan dingin air kran. 
Hmm…aku mencium wangi kopi dari ruang meja makan. Hehe..rupanya pagi ini aku mendapat secangkir kopi gratis dari Abinya Shaz yang mendadak jadi barista. Bunda Iroy sudah menyiapkan sarapan dengan menu Padangnya. Sementara Kak Sil sudah di meja makan, sibuk dengan dendeng, lemper ayam, plus kopi di cangkir besarnya. 
Di Bandung kok menu Padang? Mana bubur ayam Mang Oyo-nya? Jangan tanya, duduk dan makan saja semua yang ada :)
Namanya Silvi Pitriani, Kak Sil begitu biasanya aku memanggil. Dia adalah tetangga sebelah kamar kosan, yang semalam baru saja menculikku. Tepatnya untuk menemaninya nyupir ke airport, menjemput temannya yaitu Bu Na…

Perjalanan Menuju “Dieng Plateu” Negeri Cantik di Bawah Langit

Pagi jam 07.00 kita mulai perjalanan dari Jogja menuju Dieng lewat arah Temanggung. Masih dengan tim yang sama, aku, Wenny dan Ucup. Setelah sehari sebelumnya berkutat muter-muter dalam kota saja di Jogja, sekarang saatnya perjalanan luar kota. Modal nekat aja sih karena aku sendiri belum pernah kesana dan rute itupun ku dapat cuma melalui telp dari Bapak. Perjalanan dari Jogja menuju Secang Magelang sekitar satu jam. Selanjutnya menuju arah Temanggung dan Wonosobo. Perjalanan yang cukup lancar mengingat jalur luar kota tidak serumit jalur dalam kota. Cukup memperhatikan tanda dan arah jalur yang dipasang di jalan. 
Saat sampai di Temanggung menuju Wonosobo, awan mendung mulai mengikuti. Perjalanan masih naik terus, dan terus berkelak-kelok. Bau kampas dari truck dan bis mini bercampur jadi satu dengan bau tanah basah saat gerimis mulai turun. Sejam kemudian hujan deras benar-benar turun. Kita memutuskan berhenti dulu di pom bensin untuk sholat dan cari makanan hangat sebelum melanju…