Skip to main content

Nge-date Yuukk...



Tang City Mall, 4 Januari 2015

Mengawali perbincangan dengan sruputan teh hangat, di tengah hari saat rintik gerimis masih turun. Sengaja memilih tempat ini, menciptakan suasana nyaman, plus beralih sejenak dari penatnya aktivitas harian. Oh iya, kami berdua kontras dalam rasa kali ini. Maniak coklat bertemu dengan lidah yang tidak terlalu suka manis-manis. Jadilah pilihan kami hari ini adalah segelas coklat panas, lemon tea tawar, donat dengan topping saus mangga dan topping dark coklat. Tau kan yang mana punyaku? *wink




Beberapa gigitan sambil ngobrol kesana-kemari, akhirnya sampai di klimaks pembicaraan. Aku yang tipikal planning, udah nyerocos dengan segala komentar akhirnya mulai menyerah. Rasanya ngga bisa melihat sesuatu yang udah di depan mata, menghitung hari saja untuk eksekusinya, masih doing nothing. Karena posisinya cuma bantuin alias tim hore, yang duduk di depanku cuma bilang, "Ya udah, liat aja tar.." sambil COC an. Huhuhu..baiklaaahh!!




Seminggu kemudian...

Lebih tenang dan santai mengikuti alur yang punya acara. Saat acara selesai dan berbagai komentar bermunculan, ada yang mengernyitkan dahi.
"Kenapa A? pusing? ribet? bingung?..hmmm, saya udah rasain tuh minggu yang lalu" sambil senyum sok cool.

Eh, tapi...
What!! Pe-er ini brarti buat dikomunikasikan lagi. Tapi pliss banget, aku ngga bisa yang mendadak-mendadak alias last minute. Mengertilah :)



Comments

Popular posts from this blog

"Rasakan Penderitaanku !"

"hahaha..akhirnya loe ngalamin juga kan, rasakan penderitaanku selama ini".. Gue paling ngga suka denger kalimat itu. Trus kalau gue ngga merasa menderita gimana? Setiap orang pasti beda dong merespon dan menghadapi suatu kondisi. Mau enak atau ngga enaknya suatu kondisi menurut gue sih tergantung dari cara pandang orang itu sendiri. Memang sih ada kalanya kita ngerasa capek, drop, ngga nyaman dengan lingkungan sekitar, merasa diperlakukan tidak adil, dihadapkan pada suatu kondisi yang ga enak untuk dijalani. Yahh..plus minus pasti ada. Tapi ketika ngga ada pilihan lain untuk menghindarinya, harus dijalani bukan ?? maka jalanilah. Mungkin kalau kita lebih ikhlas dengan segala sesuatunya...akan terasa lebih ringan dan akan lebih mudah berfikir tentang hikmah yang bisa kita ambil. Bukan berarti berhenti berusaha mencari yang lebih baik kan...hayooo semangat ^_^

Catatan Minggu ke 43

Pekerjaan selama satu minggu cukup aman terkendali. Informasi yang beredar, minggu depan bakal diadakan test dari vendor, semacam standarisasi dan acuan bareng buat OSS. Siap-siap saja :P  Sabtu 20 Oktober, 06.30 WIB  Dikejutkan oleh whatsapp dari Ayu yang kerasukan ide liar, konon nyaris membuatnya salto dan ngga bisa tidur lagi habis subuh. Dan diputuskan akan dibahas pas ketemuan hari Minggu. Lagi asyik perang comment, bau harum kari menguar di kosan. Tak salah lagi pelakunya adalah Kak Sil.  Okeh, sebagai bocorannya, dia adalah orang yang paling bisa dan sangat tau bagaimana menimbulkan minat masakku seketika. Jadi yang dilakukannya, hanya mengisi kulkas dengan bahan masakan, atau meng-eksekusi langsung seperti pagi ini. Masakan kali ini temanya masih ‘ Thai Food ’ dengan resep ‘ Red Curry ’. Aku baru tahu bahwa perbedaan ‘ Red dan Green Curry ’, terletak pada cabe yang digunakan sebagai bumbu. Bentuknya mirip sekali dengan gulai ayam khas Padang....

Postingan Pembatas

Tulisan dalam postingan kali ini adalah sebagai tanda atau pembatas. Langkah awal bahwa aku tidak hanya mengumpulkan dan mencatat ide yang berlompatan saja. Tapi aku ingin membuat ide-ide itu menjadi lebih terstruktur, sehingga ada nyawa dalam setiap tulisan.  Bukti bahwa aku bukan hanya sekedar menulis untuk memaparkan hal-hal yang telah kulalui saat ini. Aku telah memutuskan diri untuk menjalaninya dengan serius. Ini memang semacam pencarian jati diri dalam berkarya. Kelak akan berevolusi seperti apakah tulisan-tulisan dalam blog ini ? Aku harus bisa menulis fiksi. Belajar bagaimana caranya menangkap ide. Bermain dengan karakter penokohan, mengatur plot, dan klimaks konflik di dalamnya. Akankah aku akan jatuh hati dengan tokoh yang kureka dan kumainkan sendiri kisahnya. Seandainya gagal, setidaknya dalam non-fiksi, semua upayaku kelak akan menjadi amunisi jika ternyata memang aku tidak terlalu pandai dalam berimajinasi.  Pikiranku sangat me...