Skip to main content

Nemenin Suami Ngantor




One sweet day? Suit..suit..ciyee  berduaan nih. Tepatnya Desember kemarin tanggal 26, saat orang masih pada berleha-leha dan menikmati cuti akhir tahunnya, moment yang pas buat keluar rumah. Ceritanya pengen berbaik hati nemenin suami berangkat ngantor, padahal ujungnya emang udah janjian ketemuan ama Riri di kosan lama, Pancoran. Kebetulan searah dengan tempat suami ngantor, pool bis di komplek perumahan juga masih libur, pagi itu kami berangkat naik Mayasari dari Kebon Nanas.


Menara Mulia, 07:30 WIB

No macet. Alhamdulillah nyampe lebih awal. Ada yang ngledekin dong begitu duduk anteng liat-liat interior kantor.

“Neng, pengen kerja lagi?” tanya Aroy. Pertanyaan memancing yang menggoda sikap konsistenku akan komitmen dari awal nikah yang sudah kami sepakati.
“Nggak, laah..”, ucapku nyengir sambil meraih satu cangkir coklat dari tangannya, mengakuisisi tempat duduk sambil browsing sana-sini. Salting sih sebenernya :P


Berhubung warung di belakang gedung masih banyak yang tutup, akhirnya kami sarapan soto di dekat kantor jamsostek. Dan berikutnya melaju dengan metromini 640 menuju Pancoran, meninggalkan Aroy. Ngobrol dan cerita panjang lebar tiada henti dengan Riri di kosannya, sampai lupa bahwa Aa Cuma setengah hari aja kerjanya saat itu. Dan telat deh karena keasyikan. Maaf ya Aa J..


Stasiun Sudirman, 13.30 WIB

Mendung tebal, gelap banget. Lanjutannya, sudah pastilah hujan deras. Yeaaa...dancing in the rain. Walaupun sudah pake payung masing-masing, tetep aja nyampe stasiun basah kuyup. Ngga pake lama nunggunya, begitu masuk lantai gerbong juga sudah basah. Sepi..dalam gerbong. Hanya ada beberapa orang dengan duduk yang terpisah jauh satu sama lain. Kalau rame, mana mungkin aku menikmati jeprat-jepret dalam kereta. Ga tau kenapa ya, paling susah kalau moto suasananya rame. Moodnya lenyap seketika..hehe.






Sampailah di stasiun Tangerang. Efek AC dalam kereta plus baju basah, rasanya paling ajib kalau nyari yang anget-anget. Nemu lah kedai bakmi godog Jawa di pojokan Pasar Lama. Bisa ngomong jawa sama ibu penjualnya rasanya itu feel like home lah :P Sambil nungguin mi-nya dimasak di atas anglo (kompor tanah yang masih pake arang), datanglah teh yang wangi banget. Teh seduh tanpa pake dicelup. Anget banget di perut.


Sepintas emang pucat kalau liat warna kuah mi-nya. Tapi percayalah, rasanya gurih karena kaldunya pake ayam kampung. Potongan rawitnya mematahkan statement, bahwa ga selamanya yang merah-merah aja yang pedes, macam sambalado *wink






Comments

Popular posts from this blog

Postingan Pembatas

Tulisan dalam postingan kali ini adalah sebagai tanda atau pembatas. Langkah awal bahwa aku tidak hanya mengumpulkan dan mencatat ide yang berlompatan saja. Tapi aku ingin membuat ide-ide itu menjadi lebih terstruktur, sehingga ada nyawa dalam setiap tulisan.  Bukti bahwa aku bukan hanya sekedar menulis untuk memaparkan hal-hal yang telah kulalui saat ini. Aku telah memutuskan diri untuk menjalaninya dengan serius. Ini memang semacam pencarian jati diri dalam berkarya. Kelak akan berevolusi seperti apakah tulisan-tulisan dalam blog ini ? Aku harus bisa menulis fiksi. Belajar bagaimana caranya menangkap ide. Bermain dengan karakter penokohan, mengatur plot, dan klimaks konflik di dalamnya. Akankah aku akan jatuh hati dengan tokoh yang kureka dan kumainkan sendiri kisahnya. Seandainya gagal, setidaknya dalam non-fiksi, semua upayaku kelak akan menjadi amunisi jika ternyata memang aku tidak terlalu pandai dalam berimajinasi.  Pikiranku sangat me...

Baby Gift buat Salma

Alhamdulillah, seneng banget dapat kabar kalau temen deket dari jaman kuliah baru saja melahirkan putri ke tiganya. Welcome to the world baby Salma :)  Iseng-iseng mulailah prakarya bikin baby giftnya. Ngga tau ya..kali ini moodnya lagi pengen sesuatu yang girly, pink, cewe banget lah judulnya. Giftnya, terdiri dari satu set baju bayi yang isinya: bodysuit, celana panjang, slabber dan kaos kaki. Sebagai tambahannya ada mini towel. Body suitnya cuma digulung aja, rollernya dari kertas kado salur pink. Sementara celananya dibentuk menjadi cupcake, dengan toper lace paper dibentuk paper rosette dengan aksen pita dan mawar kecil di bagian tengahnya. Celananya sendiri ada hiasan ramplenya, jadi kelihatan bagus waktu dibentuk cup cakenya. Mirip seperti pengganti hiasan cream di atasnya.  Handuknya alias mini towel digulung, ditambah stik jadilah lolipop. Makin cantik dengan bungkus kain tile yang ditambahkan pita pink sebagai pengikatnya. Slabbernya sendiri, digu...

Bertandang ke Kota Sri Sultan

05 April 2012, 18:00 WIB   Saatnya eksekusi planning liburan yang aku buat secara spontan seminggu yang lalu dengan Wenny dan Ucup. Setelah urusan Report Exclusion kelar, keluar dari Gedung Panin di Pandanaran menuju ke kosan buat packing dan ngurus masalah transportasi. Kita bertiga memutuskan untuk langsung perjalanan malam menuju Jogja selepas ngantor. Ceritanya biar bisa istirahat dulu dan perjalanan gak tergesa-gesa. Semua barang sudah dimasukkan, perut juga sudah kenyang, tak ketinggalan bantal kesayangan, mari kita tinggalkan Semarang menuju ke kota Sri Sultan. Sekilas kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 21:00.  Perjalanan cukup lancar. Sesekali melewati truk-truk besar dengan kepulan asap hitamnya laksana cumi-cumi jalanan menghiasi seputaran kota Ungaran menuju Bawen. Wenny sudah mulai pelor nampaknya di belakang. Aku sendiri menemani Ucup menikmati perjalanan berkelok menembus gelap jalur sepanjang Magelang. Ini adalah kali pertamanya dia menuju ke ...