Penghujung September
hampir di depan mata, dan saya baru update blog ini lagi. Belum banyak ternyata yang saya posting.
Rasanya baru kemarin saya berkeinginan bahwa tahun ini ingin menulis lebih baik
lagi. Ternyata untuk rutin update alias setor postingan di sini saja, jauh dari
kata baik. Kabar buruknya lagi, ternyata saya tidak cukup tangguh untuk membenahi
dan menyelesaikan draf yang berserakan dalam folder.
Saya sangat kagum dengan
teman-teman yang produktif dalam menulis. Mereka bisa menghasilkan banyak
karya, bahkan dalam hitungan waktu yang cukup singkat. Sementara saya, bahkan
ketika ide terkadang sudah berputar dalam isi kepala, tidak langsung
menuliskannya. Mendiamkan hingga berhari-hari. Menunggu sampai pada akhirnya benar-benar
berteriak untuk ditulis. Energi meledak inilah yang pada akhirnya mampu
menggerakkan jari saya menekan kembali tuts keyboard, merangkaikan huruf
menjadi kata hingga akhirnya bercerita. Seperti apa rasanya ketika meledak? Kau
akan menemukanku menulis dengan susah payah dan tidak berstruktur.
Pada akhirnya saya
mengerti. Menulis tidak selalu menghasilkan karya. Terkadang lebih pada dialog
dengan diri. Bahkan parahnya, ada saat dimana saya hilang energi, hilang
motivasi. Segalanya terasa berhenti. Saat saya benar-benar ingin membebaskan
diri dari segala hal yang membebani dan bermain-main dengan imaji. Suatu kegiatan
yang tidak pernah saya publikasikan. Bisa jadi sudah lama ada di kepala, tidak
menyadari, terakumulasi, dan tertutupi oleh rasa tidak percaya diri. Semua berawal dari kerinduan untuk mempunyai
dapur sendiri. Yup, saya punya aktivitas baru lagi. Tengok saja disini.
Jadi ketika tidak berada
di halaman ini, kemungkinan saya akan bermain di tempat tadi. Walaupun hanya
berpindah sebentar, ternyata kegiatan ini menyeret banyak pekerjaan lainnya. Memandangi
hasil browsing food photography, membayangkan konsep visual, hunting prop
(peralatan makan) versi murah di pinggiran jalan, mengobrak-abrik “gudang buku”
Pasfes sekedar mencari resep yang pas di hati, sampai standarisasi resep. Opsi yang
terakhir lebih karena rasa tanggung jawab saja ketika di tanya orang. Selama ini
masak tak pernah pakai ukuran, mengandalkan feeling dan indra pengecap. Ternyata
banyak membuat orang keki :).
Walaupun cukup
merepotkan, tapi menyenangkan untuk melalui semuanya. Bisa jadi karena semua
keinginan saya terakomodir disini. Yakin bakalan enjoy disini? Hehe..lihat saja
apakah kelak saya akan mengalami momen stagnasi lagi, cuma itu patokannya.
Terus nulisnya? Hayo ingatkan
saya biar tidak malas lagi!!
Comments
Post a Comment