Skip to main content

Cinta...Ohhh



Rasanya males banget mo beranjak dari tempat tidur. Yup..hari Sabtu saatnya buat males-malesan...hehe. Dari tadi gue cuma melahap buku2 yang kemarin gue beli waktu ada bazar di Pasfes. Murah meriah cuma sepuluh ribuan...not bad lah isinya. Sementara di depan kamar, gue denger bu Eni lagi sibuk nyuci. Ya dialah yang nyuciin semua baju anak2 kos di sini. Trus gue denger juga si mbak-nya yang bantuin ibu kos kaya lagi nangis.


Beberapa hari ini emang si mbaknya suka cerita ma gue, yaa..biasalah kisah klasik percintaan antara si mba2 dan mas2 pembantu rumah tangga, hehe…Cuma ko makin lama makin kenceng ya. Akhirnya gue bangun, kalo ini emang karena pengen ke kamar mandi sih. Begitu buka pintu kamar, sontak gue kaget...si embak-nya jatuh pingsan. Gue lari kea rah jatuhnya, trus gue tepuk2 pipinya...ngga bergeming, bener-bener ngga sadar. Gue angkat kepalanya, sambil nungguin bu Eni ngambil minyak kayu putih. Si ibu Kosnya ngga ada di rumah lagi. Karena badannya berat, akhirnya gue pindah ke sisi kakinya si embak. Gue ma bu Eni akhirnya bopong si embaknya ke dalam rumah, sambil nungguin bu Kosnya dateng.


Hmmm...ko sampe segitunya ya, akhirnya gue baru tahu dari bu Eni kalau si emba-nya abis berantem gitu deh sama pacarnya, dan yang bikin dia kecapean nangis sampe pingsan ya karena mereka berdua ternyata dah jauh banget berhubungannya....oalaaaaahhh. Jadi inget dengan apa yang barusan gue baca dari buku :



telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW
lalu dia berkata
"wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku
pekerjaan yang jika aku mengerjakannya,
aku akan dicintai Allah
dan dicintai manusia".
Sabda Rasulullah
"Sederhanakanlah engkau akan dunia
pasti Allah akan mencintai engkau
dan sederhanakanlah engkau
akan apa yang ada pada manusia,
pasti manusia akan mencintai engkau"


hadis diriwayatkan Ibnu Majjah




Kalau gue tarik kesimpulann di atas adalah sebuah kesederhanaan dan kewajaran. Sederhana dan wajar dalam hidup, yang berarti ngga mengejar dunia sampe berlebihan. Bukan berarti kita ngga kasih best effort di setiap kerjaan kita kan ??. Sebaliknya juga bersikap wajar pada manusia, ngga terlalu mencintainya, bersikap biasa aja, mencintai dengan kewajaran.


Kalau ngebayangin wajah mbak-nya waktu pingsan tadi ngga tega juga sih. Dalam keadaan pingsan aja air matanya ngga brenti ngalir. Di saat itu pula gue cuma bisa diem. It made me think…iya sih, bahwa yang namanya laki-laki memang ditakdirkan untuk saling mencintai dengan perempuan, tetapi pada jalur yang benar kan ??. Bukankan Allah sudah kasih rule yang jelas. Karena kita makhluknya, pastinya Allah lah yang lebih tau tentang segala sesuatu yang kita butuhin. Jadi ngikutin rule-nya emang yang terbaik kan ? dan tinggal bagaimana kita sendiri yang memaknai kata cinta itu sendiri.


Balik lagi ke persoalan sederhana, wajar dan apa adanya, gue jadi inget tentang pertanyaan temen by chat : “ mencintai apa adanya or ada apanya…”, ya gue jawab aja “ ya kalau ada, bilang ada lah, kalau ngga ada ya jangan di apa-apa in” …hihi

Jika mencintai dengan wajar, apa adanya, justru merekalah yang tertarik pada kita. Katanya sih ada semacam karisma yang terpancar dari dalam diri kita…oh yaa??? Hmmm…apakah itu sudah terimplementasi dalam diri gue atau belum yaaaa…who knows???....hahaha

Comments

Popular posts from this blog

Dunia di Balik Lemari Kaca

Palem Permai, Bandung, 11.11.2012. 

Udara pagi Bandung membuatku masih betah meringkuk dalam selimut tebal. Namun suara celoteh Shazia, sudah ramai terdengar dari ruang tengah. Akhirnya rasa malas bergerak terkalahkan oleh rasa kangen untuk bermain dan ngobrol dengan si neng geulis ini. Kusingkap selimut, lalu mencuci muka sambil menahan dingin air kran. 
Hmm…aku mencium wangi kopi dari ruang meja makan. Hehe..rupanya pagi ini aku mendapat secangkir kopi gratis dari Abinya Shaz yang mendadak jadi barista. Bunda Iroy sudah menyiapkan sarapan dengan menu Padangnya. Sementara Kak Sil sudah di meja makan, sibuk dengan dendeng, lemper ayam, plus kopi di cangkir besarnya. 
Di Bandung kok menu Padang? Mana bubur ayam Mang Oyo-nya? Jangan tanya, duduk dan makan saja semua yang ada :)
Namanya Silvi Pitriani, Kak Sil begitu biasanya aku memanggil. Dia adalah tetangga sebelah kamar kosan, yang semalam baru saja menculikku. Tepatnya untuk menemaninya nyupir ke airport, menjemput temannya yaitu Bu Na…

Perjalanan Menuju “Dieng Plateu” Negeri Cantik di Bawah Langit

Pagi jam 07.00 kita mulai perjalanan dari Jogja menuju Dieng lewat arah Temanggung. Masih dengan tim yang sama, aku, Wenny dan Ucup. Setelah sehari sebelumnya berkutat muter-muter dalam kota saja di Jogja, sekarang saatnya perjalanan luar kota. Modal nekat aja sih karena aku sendiri belum pernah kesana dan rute itupun ku dapat cuma melalui telp dari Bapak. Perjalanan dari Jogja menuju Secang Magelang sekitar satu jam. Selanjutnya menuju arah Temanggung dan Wonosobo. Perjalanan yang cukup lancar mengingat jalur luar kota tidak serumit jalur dalam kota. Cukup memperhatikan tanda dan arah jalur yang dipasang di jalan. 
Saat sampai di Temanggung menuju Wonosobo, awan mendung mulai mengikuti. Perjalanan masih naik terus, dan terus berkelak-kelok. Bau kampas dari truck dan bis mini bercampur jadi satu dengan bau tanah basah saat gerimis mulai turun. Sejam kemudian hujan deras benar-benar turun. Kita memutuskan berhenti dulu di pom bensin untuk sholat dan cari makanan hangat sebelum melanju…

Bertandang ke Kota Sri Sultan

05 April 2012, 18:00 WIB
Saatnya eksekusi planning liburan yang aku buat secara spontan seminggu yang lalu dengan Wenny dan Ucup. Setelah urusan Report Exclusion kelar, keluar dari Gedung Panin di Pandanaran menuju ke kosan buat packing dan ngurus masalah transportasi. Kita bertiga memutuskan untuk langsung perjalanan malam menuju Jogja selepas ngantor. Ceritanya biar bisa istirahat dulu dan perjalanan gak tergesa-gesa. Semua barang sudah dimasukkan, perut juga sudah kenyang, tak ketinggalan bantal kesayangan, mari kita tinggalkan Semarang menuju ke kota Sri Sultan. Sekilas kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 21:00. 
Perjalanan cukup lancar. Sesekali melewati truk-truk besar dengan kepulan asap hitamnya laksana cumi-cumi jalanan menghiasi seputaran kota Ungaran menuju Bawen. Wenny sudah mulai pelor nampaknya di belakang. Aku sendiri menemani Ucup menikmati perjalanan berkelok menembus gelap jalur sepanjang Magelang. Ini adalah kali pertamanya dia menuju ke Jogja melewati jalur utara…